Kisah Keteladanan
Sunan Kalijaga
اَلسَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Kepada Dewan yuri yang terhormat,
Dan teman-teman peserta lomba yang selalu semangat.
Teman-teman ... kali ini, saya akan
bercerita tentang “Kisah Keteladanan Sunan Kalijaga”. Sebelum bercerita, saya akan menyanyikan sebuah lagu ciptaan Sunan Kalijaga. Dengarkan baik-baik,
ya ...!
Gundul-gundul
pacul cul gembelengan
Nyunggi-nyunggi
wakul kul gembelengan
Wakul
ngglimpang segane dadi sak ratan
Wakul
ngglimpang segane dadi sak ratan
Lagu tersebut identik dengan
kisah Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Pandanaran berikut ini. Bagaimana kisah Sunan Kalijaga
saat mendakwahi Ki Ageng Pandanaran? Teman-teman ada yang tahu ceritanya? Baik.
Saya akan mulai bercerita, ya!
Alkisah, hiduplah seorang
Bupati Semarang yang bernama Ki Ageng Pandanaran. Ia giat mengembangkan kegiatan keagamaan untuk membina
rakyatnya agar hidup makmur dan damai. Namun,
keberhasilan yang telah dicapai membuatnya lupa diri.
Sifatnya berubah menjadi congkak, sombong dan kikir.
Mengetahui sikap dan perilaku Ki Ageng Pandanaran tersebut, Sunan Kalijaga segera memperingatkan. Siapa itu Sunan Kalijaga? Sunan Kalijaga
adalah salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.
Ayahnya bernama
Tumenggung Wilwatikta, sedangkan ibunya bernama Dewi Nawangarum. Nama
kecilnya Raden Mas Syahid.
Suatu
hari, datanglah Sunan Kalijaga ke kediaman Ki Ageng Pandanaran dengan
mengenakan pakaian compang-camping layaknya seorang penjual rumput.
“Rumput ... rumput ...! Tolong, beli rumput saya, Tuan.”
Di
sela-sela menawarkan rumputnya, sang Sunan menasehati Ki Ageng
Pandanaran agar tidak terbius oleh kemewahan dunia
“Maaf, Tuan! Sebaiknya Tuan segera kembali ke jalan yang benar !”
“Hai penjual rumput!` Memang kamu siapa ha ..., berani beraninya menceramahiku?”
“Maaf Tuan! Saya hanyalah penjual rumput yang miskin.
Hamba melihat Tuan sudah terlalu jauh terlena dalam kebahagiaan dunia. Saya
hanya ingin memperingatkan Tuan agar tidak melupakan kebahagiaan yang abadi
yaitu kebahagiaan akhirat.”
Mendengar nasehat itu, Ki Ageng Pandanaran
bukannya sadar, namun semakin marah dan mengusir penjual rumput. “Pergi Kau. Pergi ...!”
Si penjual rumput itu tak bosan-bosannya datang menasehatinya. Namun, setiap kali
dinasehati, Bupati Semarang itu tetap saja tidak
menggubrisnya. Khawatir perilakunya semakin
menjadi-jadi, akhirnya Sunan Kalijaga menunjukkan karomahnya.
“Wahai Bupati Semarang yang angkuh dan sombong. Ketahuilah,
hartamu tidak ada artinya dengan harta
yang aku miliki.”
“Hai, penjual rumput! Buktikan kepadaku jika kamu memang orang kaya!”
Akhirnya, Sunan
Kalijaga menunjukkan karomahnya. Beliau
mengambil cangkul. Bismillahirrahmanirohiim. Beliau mulai mencangkul
sebidang tanah. Ternyata, bongkahan tanah yang dicangkulnya berubah menjadi ....
apa? Hayo, siapa yang tahu? Ya, bongkahan tanah itu berubah menjadi e – mas.
Ki Ageng Pandanaran heran,
“Emaaas!”pekiknya.
“Hai penjual rumput. Siapa kamu sebenarnya?” tanya Ki Ageng Pandanaran penasaran.
“Saya Sunan Kalijaga.”
Ki ageng Pandanaran terkejut dan segera minta maaf.
“Astaghfirulloh .... Maafkan saya, Sunan. Saya khilaf. Jika Sunan tidak keberatan, ijinkan
saya berguru pada Sunan!”
Sunan Kalijaga menyetujui permintaan Ki Ageng Pandanaran. Dia meminta Ki Ageng Pandanaran pergi ke
Gunung Jabalkat untuk
berguru kepadanya.
Begitulah kisah keteladanan
dari Sunan Kalijaga. Dari kisah tadi, hikmah yang bisa kita petik yaitu kita tidak boleh sombong. Alloh melarang sifat
sombong seperti firman-Nya dalam Surat Al Isra’ ayat 37 yang berbunyi :
وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحاً -
“Dan
janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong.”
Pergi ke kota, naik delman.
Jika ada salah kata,
mohon dimaafkan.
Terima kasih.
Akhirul kalam
|