Sabtu, 30 September 2023

Kisah Keteladanan Sunan Kalijaga

Kisah Keteladanan Sunan Kalijaga


 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kepada Dewan yuri yang terhormat,

Dan teman-teman peserta lomba yang selalu semangat.

Teman-teman ... kali ini, saya akan bercerita tentang “Kisah Keteladanan Sunan Kalijaga”. Sebelum  bercerita, saya akan menyanyikan sebuah lagu  ciptaan Sunan Kalijaga. Dengarkan baik-baik, ya ...!

Gundul-gundul pacul cul gembelengan

Nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan

Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan

Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan

Lagu tersebut identik dengan kisah  Sunan Kalijaga dan Ki Ageng  Pandanaran berikut ini. Bagaimana kisah Sunan Kalijaga saat mendakwahi Ki Ageng Pandanaran? Teman-teman ada yang tahu ceritanya? Baik. Saya akan mulai bercerita, ya!

Alkisah, hiduplah seorang Bupati Semarang yang  bernama  Ki Ageng Pandanaran. Ia giat mengembangkan kegiatan keagamaan untuk membina rakyatnya agar hidup makmur dan damai. Namun, keberhasilan yang telah dicapai membuatnya lupa diri. Sifatnya berubah menjadi congkak, sombong dan kikir.

Mengetahui sikap dan perilaku Ki Ageng Pandanaran tersebut, Sunan Kalijaga segera memperingatkan. Siapa itu Sunan Kalijaga? Sunan Kalijaga adalah salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Ayahnya bernama Tumenggung Wilwatikta, sedangkan ibunya bernama Dewi Nawangarum. Nama kecilnya Raden Mas Syahid.

Suatu hari, datanglah Sunan Kalijaga ke kediaman Ki Ageng Pandanaran dengan mengenakan pakaian compang-camping layaknya seorang penjual rumput.

“Rumput ... rumput ...! Tolong, beli rumput saya, Tuan.”

Di sela-sela menawarkan rumputnya, sang Sunan menasehati Ki Ageng Pandanaran agar tidak terbius oleh kemewahan dunia

 “Maaf, Tuan! Sebaiknya Tuan segera kembali ke jalan yang benar !”

“Hai penjual rumput!` Memang kamu siapa ha ...,  berani beraninya menceramahiku?”

“Maaf Tuan! Saya hanyalah penjual rumput yang miskin. Hamba melihat Tuan sudah terlalu jauh terlena dalam kebahagiaan dunia. Saya hanya ingin memperingatkan Tuan agar tidak melupakan kebahagiaan yang abadi yaitu kebahagiaan akhirat.”

Mendengar nasehat itu, Ki Ageng Pandanaran bukannya sadar, namun semakin marah dan mengusir penjual rumput.   “Pergi Kau. Pergi ...!”

Si penjual rumput itu tak bosan-bosannya datang menasehatinya. Namun, setiap kali dinasehati, Bupati Semarang itu tetap saja tidak menggubrisnya. Khawatir perilakunya semakin menjadi-jadi, akhirnya Sunan Kalijaga menunjukkan karomahnya.

“Wahai Bupati Semarang yang angkuh dan sombong. Ketahuilah, hartamu tidak ada artinya  dengan harta yang aku miliki.”

“Hai, penjual rumput! Buktikan kepadaku jika kamu memang orang kaya!”

 Akhirnya, Sunan Kalijaga menunjukkan karomahnya. Beliau  mengambil cangkul. Bismillahirrahmanirohiim. Beliau mulai mencangkul sebidang tanah. Ternyata, bongkahan tanah yang dicangkulnya berubah menjadi .... apa? Hayo, siapa yang tahu? Ya, bongkahan tanah itu berubah menjadi e – mas.

Ki Ageng Pandanaran heran, “Emaaas!”pekiknya.

“Hai penjual rumput. Siapa kamu sebenarnya?” tanya Ki Ageng Pandanaran penasaran.

Saya Sunan Kalijaga.”

Ki ageng Pandanaran terkejut dan segera minta maaf.

Astaghfirulloh .... Maafkan saya, Sunan. Saya khilaf. Jika Sunan tidak keberatan, ijinkan saya berguru pada Sunan!

Sunan Kalijaga menyetujui permintaan Ki Ageng Pandanaran. Dia meminta Ki Ageng Pandanaran  pergi ke Gunung Jabalkat untuk berguru kepadanya.

Begitulah  kisah keteladanan dari Sunan Kalijaga. Dari kisah tadi, hikmah yang bisa kita petik yaitu  kita tidak boleh sombong. Alloh melarang sifat sombong seperti firman-Nya dalam Surat Al Isra’ ayat 37 yang berbunyi :

وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحاً - 

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong.”

Pergi ke kota, naik delman.

 Jika ada salah kata, mohon dimaafkan.

Terima kasih.

Akhirul kalam

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Rabu, 27 September 2023

Teks Pidato Pribadi Yang Bermanfaat bagi Umat

 PRIBADI YANG BERMANFAAT BAGI UMAT

(Menyanyikan lagu shalawat dengan lirik seperti di bawah ini)

Si kate itu nama ayam

Badannya kecil tingkahnya lincah

Jangan lupa membalas salam

Moga kita mendapatkan berkah

Moga kita mendapatkan berkah

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Hamdan Wa Syukron lillah,

Solaatan wa salaaman ‘ala rosulillah

Ammaa ba’du.

Dewan juri yang saya hormati dan teman-teman seperjuangan yang saya sayangi.

Yang pertama dan utama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala, yang telah memberi bekah dan karunia-Nya, sehingga kita bisa mengikuti  lomba, dengan hati bahagia.

Sholawat serta salam semoga dilimpahkan kepada  junjungan kita, Nabiyulloh Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam. Semoga  kita mendapat syafaatnya  kelak di hari kiamat. . Allohumma (Aamiin).

Teman-teman .... Masih semangat? Mana semangatmu? (Ini semangatku). Saya berdiri di sini, akan menyampaikan tausiyah dengan tema “Pribadi yang Bermanfaat bagi Umat”.

Mengapa ya, kita harus menjadi pribadi yang bermanfaat? Teman-teman ada yang tahu? Ya, karena ini merupakan salah satu perintah Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam kepada ummatnya sebagaimana sabda beliau:

“Khoirunnaasi anfa’uhum linnaasi”

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. (Hadits Riwayat Ath-thabrani).

Seorang muslim itu, lebih diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Bukan hanya mencari manfaat dari orang lain.  Atau bahkan memanfaatkan orang lain. Setuju tidak teman-teman? (Setuju) Karena apa? Karena manfaat yang telah kita berikan kepada orang lain semuanya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Sebagaimana firman Alloh berikut ini:

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ 

“In ahsantum ahsantum li anfusikum”.

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri”

(Qur’an Surat al-Isra ayat 7)

Selain itu, Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam juga  bersabda :

Wa man kaana fii haajati akhiihi kaanallohu fii haajatih(i)”

“Dan barangsiapa (yang bersedia) membantu keperluan saudaranya, maka Alloh  (akan senantiasa) membantu keperluannya”. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Banyak cara bisa dilakukan agar menjadi orang yang bermanfaat bagi umat. Apa saja itu? Mungkin teman-teman sudah ada yang tahu?  Baiklah, saya akan singkat menjadi 5 M.

M1 Memberikan sebagian harta agar bermanfaat bagi orang lain.

M2 Membagikan  ilmu yang bermanfaat.

M3 Melakukan kebaikan dengan membantu orang lain.

(Menyanyikan lagu Bimbo yang berjudul “Jangan Ditunda-tunda”)

Berbuat baik janganlah ditunda-tunda

Berbuat baik janganlah ditunda-tunda

Memblanjai anak yatim menafkahi anak yatim

Menyantuni fakir miskin melindungi fakir miskin

M4 Meningkatkan kualitas manfaat diri kita dengan meningkatkan ketrampilan dan kemampuan.

M5 Meraih manfaat untuk diri kita sendiri dengan beramal secara ikhlas dan tidak riya’.

Mari, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi umat, menebar kebaikan demi mendapat pahala yang berlipat, berbuat baik tanpa harus dilihat, agar selamat di dunia dan di akhirat. Allohumma (aamiin).

 Sebelum saya akhiri saya akan menukil  satu pepatah Jawa yang berbunyi “Urip iku urup”. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita.

Buah pepaya buah ceri, buah kiwi buah alpukat

Ijinkan saya undur diri, terima kasih moga bermanfaat.

 Akhirul kalam,  

والسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Senin, 25 September 2023

Drama Metamorfosis Kupu-Kupu

 

DRAMA : METAMORFOSIS KUPU-KUPU

 

Narator : Mbak Aini

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hadirin yang saya hormati dan teman-teman yang saya sayangi.

 Kali ini, anak-anak  kelas tiga putri akan menyajikan sebuah pementasan drama dengan judul "Metamorfosis Kupu-Kupu." Teman-teman, tahu tidak metamorfosis kupu-kupu? Baiklah .... Mari kita saksikan bersama-sama.

ADEGAN I

(Narator :Di sebuah taman, yang terletak di depan pintu gerbang sekolah, tumbuhlah bunga-bunga yang sangat indah, so beuatifull.)

(3 siswi yang memerankan sebagai bunga memasuki panggung)

Naim, Salma dan Icha (bunga) : Alhamdulillah, matahari bersinar cerah. Bunga kami jadi bermekaran.

(3 siswi yang memerankan sebagai kupu-kupu memasuki panggung)

(Narator : Keindahan mahkota bunga-bunga itu membuat kupu-kupu terpesona. Dia terdiam sesaat sambil  menikmati pemandangan yang menakjubkan itu.)

Husna, Yaya dan Nashwa (kupu-kupu) : Subhanallah, indah sekali. Ayo kita hinggap di atas bunga itu.

(Narator : Kupu-kupu itu pun terbang lalu hinggap di atas bunga. Mereka menghisap nektar yang diproduksi  bunga-bunga itu. Bunga pun tersenyum sambil berkata.... )

Naim, Salma dan Icha (bunga) : Terima kasih kupu-kupu. Kalian telah membantu penyerbukanku.

Husna, Yaya dan Nashwa (kupu-kupu) : Sama-sama. Terima kasih juga kaliyan  telah memberi kami makanan.

(Narator : Kupu-kupu bersuka cita, demikian juga bunga. Mereka telah menjalin simbiosis mutualisme yang kompak. Salah satu kupu-kupu itu berkata ....)

Yaya(Kupu-kupu) : Teman-teman, aku mau mencari daun dulu, ya. Aku mau bertelur, nih!

Husna dan Nashwa(2 Kupu-kupu) menyahut : Aku ikut!

(Narator : Kupu-kupu itu pun terbang mencari daun yang hijau dan segar.)

ADEGAN II :

Fitria, Anis dan Lia (daun) : Mau apa kalian kemari?

Husna, Yaya dan Nashwa (kupu-kupu) : Titip telur-telur kami, ya.

(Narator : Kupu-kupu meletakkan telur-telurnya pada daun-daun itu. Telur-telur itu pun berkembang menjadi ulat-ulat kecil).

ADEGAN III :

Fitria, Anis dan Lia (daun) : Hai, kalian tidak tahu terima kasih. Sudah numpang, minta makan lagi.

Friska dan Della (ulat) : Kasihan, kami Tuan. Kami butuh makan.

Fitria, Anis dan Lia (daun) : Ah, dasar rakus!

(Ulat-ulat itu sepanjang hidupnya makan hingga badannya gembul.)

Friska dan Della (ulat) : Perutku kenyang banget. Aduh!

(Narator : Ulat-ulat itu akhirnya sadar dengan kerakusannya. Untuk menebus kesalahannya dia puasa beberapa hari hingga menjadi kepompong)

ADEGAN IV :

Meva (kepompong)  : Kita harus berpuasa beberapa hari, Nih!

Ghina (kepompong) : Gak papa. Ini akibat kerakusan kita.

Meva dan Ghina (kepompong) : Ayo, kita siap-siap berpuasa! Bismillah.

(Narator : Ulat-ulat itu berpuasa sambil beristighfar pada Allah. Kesabaran dan ibadah dia menuaikan hasil yang luar biasa. Sedikit demi sedikit tubuh mereka berubah berwarna-warni menjadi kupu-kupu).

(Semua pemain memasuki panggung sambil bernyanyi)

ULAT ULAT TELUR TELUR KEPOMPONG KUPU-KUPU

KELAS TIGA UNYU KELAS TIGA UNYU ....

Mbak Aini : Sekian persembahan dari kami, akhirul kalam...

 Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh (bersama-sama).

Minggu, 24 September 2023

Naskah Cerita Islami "Keteladanan Sunan Giri"

 


Keteladanan Sunan Giri



اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kepada Dewan yuri yang terhormat,

Dan teman-teman peserta lomba yang selalu semangat.

Teman-teman ... kali ini, saya akan bercerita tentang “Kisah Keteladanan Sunan Giri”. Sebelum  bercerita, saya akan menyanyikan sebuah lagu  ciptaan Sunan Giri. Dengarkan baik-baik, ya ...!

Cublak-cublak suweng

Suwenge ting gelenter

Mambu ketundhung gudel

Pak empong lera lere

Sapa ngguyu ndeliake

Sir sir pong dhele kopong

Sir sir pong dhele kopong

Nah, teman-teman, ternyata lagu tersebut sesuai dengan Kisah Sunan Giri dan Ibu Angkatnya berikut ini. Bagaimana kisah Sunan Giri saat mendakwahi Ibu Angkatnya? Teman-teman ada yang tahu ceritanya? Baik. Saya akan mulai bercerita, ya!

Sunan Giri adalah salah satu Wali Songo yang sangat berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Waktu kecil ia diberi nama Joko Samudro oleh ibu angkatnya. Ketika  beranjak dewasa ia dipanggil Raden Paku. Ayahnya bernama Maulana Ishaq dan ibunya bernama Dewi Sekardadu. Namun, sejak kecil Sunan Giri tinggal bersama ibu angkatnya yang bernama Nyi Ageng Pinatih.

Nyi Ageng Pinatih merupakan saudagar wanita yang kaya. Ia punya sejumlah armada kapal dagang. Suatu hari,  Nyi Ageng menyuruh Raden Paku untuk berdagang ke Banjarmasin bersama Abu Hurairah.

Singkat cerita, tibalah rombongan kapal  Raden Paku di Banjarmasin.  Ternyata, di sana sedang dilanda paceklik. Penduduk banyak yang kekurangan pangan dan tidak mampu membeli barang dagangannya. Melihat kondisi ini, Raden Paku ikut prihatin. Lalu ia membagikan barang daganganya secara gratis kepada penduduk.

Abu Hurairah  menjadi sangat kuatir. Ia bertanya kepada Raden Paku .

 “Raden ... mengapa Raden membagikan barang dagangan kepada penduduk. Nanti kalau Nyonya tahu, kita bisa kena marah. Apalagi kita pulang tidak bawa apa-apa. Kapal kita bisa oleng dan tenggelam diterjang ombak, Raden. Bagaimana ini Raden?”

Raden Paku berkata, “Janganlah Engkau kuatir ya Hurairah.  Rejeki sudah diatur Alloh.”

Raden Paku menyuruh agar karung-karung bekas barang dagangan yang dibawa dari Jawa diisi dengan batu dan pasir untuk dijadikan pemberat kapal.

Sesampai di Gresik, kekuatiran Abu Hurairah terbukti. Nyi Ageng tampak marah besar.

“Apa yang kaliyan lakukan di sana, ha? Berdagang kok seperti ini. Kalau seperti ini aku bisa bangkrut. Aku bisa bangkrut.”

 “Tenang, Bu. Sabar .... Sabar...!”

“Ibu harus sabar bagaimana lagi, Joko? Barang dagangan Ibu habis. Sedangkan kaliyan pulang tidak bawa apa-apa. Berdagang macam apa kaliyan.”

“Ibu seharusnya instrospeksi diri. Selama ini Ibu terlalu pelit. Ibu lupa berzakat. Ibu lupa bersedekah. Ibu hanya mencari keuntungan saja.

Nyi Ageng Pinatih mendengarkan tausiyah anak angkatnya. Maa syaa Alloh, dia akhirnya sadar dan bersedia untuk memperbaiki diri. Ia pun mengikhlaskan barang-barang yang terlanjur diberikan Raden Paku di Banjarmasin.

Nyi Ageng Pinatih menuju ke kapal dan hendak melihat karung-karung yang  berisi batu dan pasir yang dibawa dari Banjarmasin. Ia sangat kaget ketika membuka karung itu. Ada yang tahu, apa isinya?   Batu itu telah berubah menjadi bongkahan e - mas.

“Emas .... Ini Emas,” teriak Nyi Ageng Pinatih histeris.

Sejak saat itu, Nyi Ageng Pinatih rajin bersedekah. Ia membantu fakir miskin dan memberikan harta bendanya untuk kepentingan  dakwah Raden Paku atau Sunan Giri.

Begitulah  kisah keteladanan dari Sunan Giri. Dari kisah tadi, hikmah yang bisa kita petik yaitu kita harus rajin bersedekah. Karena perintah bersedekah diabadikan dalam surat Al Baqarah ayat 267 yang berbunyi :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ  

"Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami Keluarkan dari bumi untukmu."

Sebelum saya akhiri, saya akan memberikan sebuah pantun.

Adik memakai kaca mata, kacamatanya dari paman.

 Jika ada salah kata, mohon  untuk dimaafkan. 

 Terima kasih.

Akhirul kalam,

                                                                                                          والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

  AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR Beli gulali di pasar malam Rasanya manis dan enak Saya akan mengucap   salam Ay...